expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

Rabu, 03 Juni 2020

Menggunakan Tool "Go To XY" di ArcGIS

Memindahkan data koordinat dari GPS ke software pemetaan mungkin sangatlah mudah dilakukan dan seringkali kita gunakan untuk melihat hasil survei yang telah dilakukan. Data titik, garis, maupun area atau berupa "track" yang telah kita lakukan akan otomatis dapat dipanggil pada beberapa software pemetaan yang mendukung format data GPS tersebut, salah satunya yaitu ArcGIS. Tidak jarang pula kita perlu melakukan pengecekan lokasi dan hanya diberikan titik koordinat yang perlu kita munculkan pada peta. Untuk data yang cukup banyak mungkin kita juga lebih suka menggunakan excel sebagai perantara penyimpanan titik kooordinat tersebut dan dapat dipanggil juga di ArcGIS dengan cepat. Namun ketika titik yang perlu di cek hanya satu atau dua mungkin akan lebih efisien untuk mengeceknya langsung di atas peta (ArcGIS). Dalam hal ini ArcGIS memberikan kemudahan tersebut dengan salah satu toolsnya yaitu "Go to XY".

Untuk penggiat GIS atau terbiasa menggunakan ArcGIS, tools ini sangat biasa dan sudah seringkali digunakan. Namun tidak sedikit pula yang jarang memanfaatkan tools ini karena tidak paham fungsinya atau jarang mengulik tools2 yang terdapat di ArcGIS, padahal tools ini merupakan tools utama. Untuk itu pada tulisan ini saya ingin berbagi cara menggunakan tool "Go To XY" di ArcGIS yang mungkin bermanfaat. Berikut ini langkah-langkahnya :

1. Pertama-tama buka aplikasi ArcGIS.
2. Setelah terbuka kita dapat melihat untuk lokasi tools, terdapat pada toolbar utama yang terdapat di sebelah atas seperti tampak pada gambar di bawah ini.


3. Setelah itu kita dapat langsung klik pada tools tersebut dan akan muncul tampilan seperti berikut 

4. Selanjutnya kita dapat langsung memasukkan titik koordinat yang akan dilakukan pengecekan. Koordinat dapat disesuaikan dengan unit yang digunakan seperti decimal degree atau format lain seperti DMS atau UTM. Untuk itu sebelum memasukkan nilai tersebut kita perlu menyesuaikan formatnya terlebih dahulu dengan meng-klik tanda panah kebawah yang terdapat di posisi paling kanan, sehingga akan muncul tampilan sebagai berikut :


5. Pada contoh kali ini saya akan menggunakan unit Degrees Minutes Seconds. Contohnya saya ingin mencari lokasi di sebuah Desa Padasenang di Kabupaten Sukabumi yang terletak pada koordinat 106°58’30,72”E dan 7°17’9,13”S. Sebelumnya kita perlu mengaktifkan coordinate systems pada data frame properties.
Dengan format diatas kita dapat langsung memasukkannya ke dalam kotak Long (longitude/bujur) dan Lat (latitude/lintang). Untuk itu kita harus benar memasukkannya dan jangan sampai tertukar ya.


Setelah dimasukkan angka koordinatnya, lalu tekan "enter" untuk mengarahkan ke titik koordinat. 

6. Setelah itu, kita dapat memunculkan titik koordinat dengan melakukan klik pada "add point" atau "add label point" seperti tampak pada gambar di bawah ini : 



7. Setelah itu kita dapat mengconvert data ke dalam file shp jika ingin menyimpannya, dan melakukan penyimpanan seperti biasa.





pilih lokasi sesuai keinginan kita :




Klik "yes" dan files shp akan muncul...


Demikianlah cara sederhana untuk memasukkan koordinat menggunakan tools "Go To XY" menggunakan ArcGIS, semoga bermanfaat ;)

Minggu, 15 Maret 2020

H.I.J.R.A.H

16 Maret 2020/ 21 Rajab 1441


Tak terasa sebulan sudah aku berada di sini, Bandung...tempat yang tidak pernah kusangka akan berdomisili dan memperoleh pekerjaan di kota ini. Di saat hati tak tentu arah, bimbang dengan jalan kehidupan yang harus kupilih. Di saat asa tak kunjung menjadi nyata, dan tuntutan hidup yang seolah tak memberi pilihan dan waktu untuk berpikir panjang. Hanya satu yang kupinta padaNya, semoga apa yang kupilih tidak salah langkah, dan semua yang kujalani saat ini adalah jalan yang Ia terangi dengan cahayaNya, hikmah dan banyaknya kebaikan, serta secercah harapan yang selama ini terasa semakin memudar.

Satu per satu kepingan mimpi kembali kukumpulkan dan berharap bukan hanya bayangan semu, senantiasa berdoa akan kasih sayang dan petunjuk serta anugerahNya, serta ikhtiar yang aku sendiri tidak bisa menilai apakah sudah baik dan benar adanya, apakah sudah maksimal segala yang kucurahkan selama ini. Yang tertinggal hanyalah kepasrahan padaNya mengenai waktu dan tempat yang kuharap menjadi saat terindah dalam hidupku. 

Tak bisa kupungkiri betapa pedihnya hati ini, betapa gelisah dan takutnya diri akan masa depan yang masih tak bisa kupahami. Kekhawatiran dan kesedihan ibu dan ayah seolah menjadi pelengkap dari kegundahan hati yang kututup rapat 8 tahun terakhir dari usiaku saat ini. Banyak kesalahan, kekhilafan, kesombongan, ketidaktahuan, keegoisan, ketidakpedulian yang saat ini berakhir menjadi sebuah penyesalan. Dan yang dapat kulakukan saat ini ialah mengintrospeksi diri dan memperbaiki segala kesalahan di masa lalu, berharap tidak akan terulang lagi kesalahan yang sama, dan menjadi pelajaran untukku dan anak cucuku kelak. 

Mungkin Allah Swt ingin mengajariku arti empati yang sebenarnya, bukan sekedar ucapan tetapi juga perasaan dan hati yang utuh untuk bisa peduli melakukan yang terbaik yang dapat kulakukan untuk membantu sesama, menghargai orang lain dengan baik, dan dapat mengambil banyak hikmah dan juga pelajaran atas semua yang kutemui dalam hidup ini.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena pasti berujung pada kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman.Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami hal yang menyedihkan, dia bersabar dan hal itu pun merupakan kebaikan.” 
[HR. Muslim].

Ya Rabb...semoga kami bisa melakukan sebagaimana kekasihMu Rasulullah SAW ajarkan, karuniakanlah kami hati yang lapang, jiwa yang bersih, amalan yang utuh, akhlak yang mulia, kasih sayang yang berlimpah, kepedulian yang tinggi, keikhlasan dan kesabaran yang sempurna, sehingga kami pantas mendapatkan ridho dan kasih sayangMu serta rahmatMu.

Senin, 21 Mei 2018

Tentang Taaruf

Ta'aruf...
mungkin kata ini sudah tidak lagi asing di telinga kita
kata yang berarti "mengenal" atau bermakna perkenalan atau "introduction" dalam bahasa inggris
Ta'aruf sendiri berasal dari bahasa Arab, biasanya ini sering dimaksudkan ketika kita bertemu dengan orang baru atau teman baru dalam kelompok Tarbiyah. Orang bilang tak kenal maka ta'aruf...

Namun seiring berjalannya waktu, di Indonesia sendiri ta'aruf memiliki makna lain yaitu ketika seorang ikhwan atau akhwat ingin mencari pasangan lewat cara yang Islami. Ta'aruf merupakan jembatan untuk mempertemukan mereka agar tidak terjerumus dalam sesuatu yang tidak diridhai Allah SWT yaitu "pacaran".
Ta'aruf biasanya tidak hanya dilakukan oleh dua orang yang ingin saling mengenal tersebut, tetapi dibutuhkan perantara agar tidak terjerumus atau salah dalam melakukan proses perkenalan tersebut. Dibutuhkan perantara yang paham agama dan mengenal kedua belah pihak atau ada perwakilan dari masing-masing pihak.

Terlepas dari makna ta'aruf tersebut, terdapat satu permasalahan yang kadang sering sulit untuk dimengerti dan dipahami ketika seseorang membutuhkan proses itu sementara ia berada di lingkungan yang tidak mendukung atau dengan kata lain ia kesulitan mencari perantara yang tepat. Ketika seseorang tidak berada dalam suatu jamaah dan bahkan kadang seseorang yang berada dalam jama'ah pun kesulitan untuk melakukannya karena tidak adanya perhatian dari teman dan lingkungan jama'ah di sekitarnya. Hal ini sering menjadi permasalahan yang sering terlupakan oleh kita. Kurangnya perhatian kita akan rekan atau sahabat juga keluarga yang tak kunjung menikah sementara usia mereka sudah sangat matang. Kita sering hanya melihat dari sisi luar tanpa tau sebab dan alasan mereka masih saja berstatus lajang. Mungkin memang banyak juga yang tidak pede untuk menikah karena tidak mempunyai persiapan namun juga banyak yang merasa kesulitan melakukan proses itu tanpa bantuan orang lain. Meskipun sebenarnya masalah finansial tidak boleh dijadikan alasan untuk menundanya jika memang ia orang yang paham agama dan yakin akan janji Allah yang akan melapangkan rezeki seseorang dengan menikah, tentulah tidak akan terlontar kata-kata itu dari lisannya.

Kadang seseorang yang tadinya begitu perhatian dan sadar betul akan hal ini menjadi lupa ketika ia sudah terlepas dari masalah yang satu ini. Ketika ia dengan mudahnya bertemu pasangan hingga akhirnya dapat menikah dan mempunyai anak, seolah-olah ia beranggapan orang lain pun akan seperti dirinya sehingga ini bukan merupakan masalah baginya dan ia tidak terlalu perduli dengan orang lain di sekitarnya.

Aku...mungkin saat ini adalah termasuk seseorang yang diceritakan di atas, namun aku yakin waktunya akan datang, saat yang begitu kunantikan itu karena aku percaya akan janjiNya dan hanya padaNyalah kumohonkan atas semua harapan dan keinginan itu.
Dengan kondisiku saat ini, juga lingkungan kerjaku membuatku menyadari bahwa memang pencarian seseorang (the one) atau tulang rusuk kita memang tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Meskipun setiap hari kita banyak bertemu dengan lawan jenis namun ketika Allah belum menghendaki maka tetap saja ia tak nampak oleh kita, begitupun juga dengan ia yang sedang mencari kita.

Semoga Allah memudahkan langkah-langkah kita dalam melaksanakan suatu niat yang baik ini, semoga Allah menyegerakan dan menjawab doa-doa kita sesuai prasangka dan impian kita. Amiiiin

Senin, 10 Maret 2014

Please Deh...Jangan Membiasakan Diri Menjadi "Plagiat" (-_-)'

Gak sengaja dapat link yang isinya tentang Geografi dan segala hal yang berkaitan dengan ilmu geo plus bisa download gratis data-data Kabupaten dan Kota di Indonesia...gak berbeda denganku mungkin penulis juga ingin berbagi ilmu dan data-data yang seharusnya dapat diperoleh oleh kita yang bergerak di bidang ini, terlebih mungkin akan sangat berguna untuk temen2 atau adik2 mahasiswa yang sering kesulitan memperoleh data yang seharusnya dapat dimiliki dengan gratis tanpa harus bayar.

Penasaran apa saja isi dari blog tersebut, kucoba untuk melihat-lihat dan berselancar di blog tersebut, entah kenapa terasa gak asing dengan beberapa tampilan yang ada dan ternyata disana juga dishare tentang beberapa tema ilmu GIS yang juga kucoba tuangkan dalam blogku. Awalnya aku tidak ingin merasa bahwa itu adalah apa yang kutulis di blogku, tetapi ketika diteliti dan diperhatikan lebih jauh baik kata-kata maupun gambar yang ditampilkan kok bisa sama persis ya bahkan sampai langkah2 yang ditulis disana. Ya mungkin itu bukanlah hal yang begitu spesial, aku yakin orang-orang yang berkecimpung dan menggeluti dunia GIS pastilah banyak yang lebih mahir dan lebih tau jika dibandingkan dengan sedikit ilmu yang sempat kutuliskan/ kubagi disini. Hmm...jadi berpikir apakah orang itu copy paste tulisanku ya???

hmm...whateverlah, sama sekali ga merasa marah karena memang semua yang kucoba tulis disini adalah sebagai ibaratnya lemari buku yang kubuat untuk diriku dan juga orang lain yang mungkin akan dapat mengambil manfaat dari apa yang kutulis di blog ini. Sebagai kantong ajaib yang ketika aku merasa butuh dapat kubuka-buka kembali kapanpun kumau. Tapiii ya jadi merasa lucu aja dan menyadari ternyata seperti ini ya rasanya ketika apa yang kita tulis dicopy paste oleh orang lain seolah-olah itu adalah tulisan mereka. Pantas saja penulis buku, pembuat lagu, penulis novel atau siapapun itu yang ketika tulisan mereka dicopy paste oleh orang lain pastinya merasa kesal dan merasa ada barang milik mereka yang diambil, terlebih jika hasil karya yang mereka buat menghasilkan nilai ekonomi.

Tapi menurutku sih seharusnya jika memang kita ingin membagi kembali ilmu yang kita dapatkan dari sumber entah apapun itu dan darimanapun jikalau sudah ada, seharusnya kita dapat lebih kreatif dan membuatnya dengan gaya dan bahasa kita sendiri, tetapi jikalau belum ada mungkin kita dapat menulis sumber kita memperolehnya. Bukan asal comot sana comot sini sesuka hati kita (^_^)' .So...stop plagiarisme, and be creative please!

CMIIW... (^_^)


I'm sorry to say...from now it's locked to copy paste...



Sabtu, 04 Januari 2014

Wallahu A'lamu :)

Sebagai seorang muslim dan orang yang beriman kepada Allah SWT, pastinya kita menyadarai bahwa hidup tidak akan pernah lepas dari masalah. Berbagai masalah yang kita hadapi sehari-hari merupakan ujian/ cobaan hidup yang Allah berikan agar kita senantiasa ingat kepadaNya dan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT agar kita tidak menjadi lalai dan terlena dengan segala nikmat yang diberikan dan juga dengan berbagai perhiasan dunia yang penuh gemerlap ini. 

Berbagai masalah tersebut membuat kita sadar bahwa hanya kepadaNyalah tempat kita kembali, dan juga tempat kita memohon pertolongan. Dengan melewati sebuah masalah, menjadikan kita orang yang baru, membuat kita menjadi lebih kuat dan tegar serta menjadikan iman kita setingkat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, jika kita dapat melewati itu semua dengan baik, sabar, dan ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda, bahwa hati seorang mukmin itu terbagi atas 2, yaitu Syukur dan Sabar. Seseorang yang beriman jika diberikan nikmat oleh Allah SWT maka ia senantiasa bersyukur, dan sebaliknya ketika ia diuji dengan cobaan dan masalah, maka ia senantiasa bersabar dalam menjalaninya. Begitu indahnya hati seorang mukmin, dengan dua hal tersebut membuat mereka menjadi orang yang tenang dan jauh dari perasaan gelisah.

Hal ini dapat terjadi karena Ma'rifatullah (mengenal Allah), mereka telah mengenal Rabbnya dengan baik, dan senantiasa yakin atas ketetapanNya. Apabila seseorang telah mengenal Allah, maka akan hilang segala tu'mah/suuzhon/prasangka buruk kepada Allah SWT. Yang ada hanyalah hikmah atas segala ujian yang diberikan, selalu dapat melihat kebaikan dan hikmah dari setiap masalah yang dilewati dan ujian yang dijalani.

Namun sebagai seorang manusia yang fitrahnya mempunyai nafsu, sehingga seringkali kita terjebak dalam perasaan dan prasangka yang sering menjerumuskan kita sehingga tidak yakin akan ketetapan Allah SWT. Kita sering merasa iri dengan hamba-hambaNya yang mungkin dimata kita terlihat tidak baik dan bahkan kafir, namun diberikan nikmat dan kesenangan hidup yang berlimpah oleh Allah, sehingga kita merasa heran dan bertanya-tanya kenapa tidak dianugerahi nikmat yang jauh lebih baik karena keimanan kita. Oleh karena itu Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya Q.S. Al An'am ayat 44 :

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"

Begitulah Allah SWT menjelaskannya, bahwa nikmat dan kesenangan yang diberikan kepada orang-orang fasik dan juga orang-orang kafir, itu semua hanyalah istidraj, yang tidak lain hanyalah untuk membuat mereka semakin lalai dan terlena dengan itu semua di dunia ini, dan bersifat sesaat/sementara dimana suatu saat nanti Allah SWT akan mengambil itu semua dengan tiba-tiba dan mereka hanya bisa terpana dan menyesali atas kelalaian yang telah mereka perbuat.

Berbeda halnya dengan orang mukmin, yang Ia beri semua nikmatNya dengan kasih sayang serta segala ujian agar hamba-hambaNya dekat dengan Sang Pemiliknya (Rabbnya) dan agar tidak lalai dengan segala kesenangan yang diberikan. Wallahu a'lam bisshowwab.... Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Sabtu, 27 Juli 2013

Kisah Orang Tua Imam Malik

Ini tentang pernikahan penuh berkah yang melahirkan generasi sholeh karena berasal dari bibit yang juga sholeh dan sholihah

Alkisah di sebuah negeri di Madinah ada seorang pemuda sholeh yang telah berusia matang dan siap untuk menikah, saat itu usianya kurang lebih dua puluh tahun dan ia menyampaikan niatnya untuk segera melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah SAW itu kepada ayahnya dan ia mempercayakan ayahnya untuk mencarikannya seorang calon isteri yang baik lagi sholehah. Akhirnya sang ayah mencarikan sosok wanita tersebut dan menemukannya kemudian menjodohkan dengan anak laki-lakinya itu. Sang pemuda dengan sepenuh hati percaya dan yakin bahwa pilihan orang tuanya adalah yang terbaik sehingga tanpa perlu waktu lama akhirnya iapun menyetujui untuk menikahi gadis tersebut.

Hari pernikahan pun tiba dan pernikahan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan kehendak dari kedua belah pihak.Acaranya berlangsung lancar hingga akhirnya tiba saat malam pertama bagi kedua pengantin. Malam pertama dimana dua insan dipertemukan dalam satu ruangan dalam kondisi yang memungkinkan saling melihat satu sama lain, terlihat apa yang tidak biasa tampak dari mereka. Di situlah akhirnya sang pemuda merasa agak kaget dan kecewa karena menemukan sesuatu cacat di tubuh isterinya, bagaimana mungkin ayahnya lalai dalam hal ini padahal ia sudah sangat yakin bahwa ayahnya telah memilihkan seseorang yang terbaik, namun ternyata di luar dugaan ketika malam itu ia melihat kondisi isterinya. Namun karena kesholehannya iapun mengurungkan untuk mengatakan sepatah katapun yang dapat membuat sedih isterinya. Meskipun begitu, sang isteri yang juga seorang perempuan sholihah, menyadari walaupun suaminya tidak mengatakan apapun tentang dirinya namun ia dapat mengetahui kekecewaan yang terlihat dari raut wajah suaminya. Kekecewaan karena adanya sesuatu kekurangan pada dirinya, hingga akhirnya sang isteri pun membacakan surat An-Nisa untuk menghibur hati suaminya.

"Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya,terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyuaki mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa :19)

Mendengar apa yang diucapkan oleh isterinya, kemudian sang pemuda pun akhirnya langsung tersenyum dan ikhlas menerima keadaan isterinya seutuhnya. Hingga akhirnya terjadilah apa yang harus terjadi pada malam itu.


Beberapa hari setelah pernikahan terjadi, tersiar berita bahwa khalifah meminta para pemuda untuk ikut andil dan ikut berperang dan berhijrah karena kondisi pemerintahan yang saat itu dalam keadaan perang di bagian negeri yang lain.

Karena sang pemuda adalah seorang yang sholeh, akhirnya iapun terpanggil dan turut serta dalam perintah sang khalifah untuk hijrah dan berperang. Sebelum kepergiannya ia berpesan kepada sang isteri agar dapat senantiasa menjaga diri dan kehormatannya selama ia pergi berperang. Sang isteri pun dengan ikhlas melepaskan kepergian suaminya dan berjanji akan melaksanakan perintah suaminya tersebut.

Waktupun terus bergulir. Karena masa peperangan saat itu tidak dapat diprediksi jangka waktunya sehingga tidak ada satu orang pun yang tahu kapan mereka yang pergi akan kembali dan apakah mereka akan selamat dalam peperangan yang akan terjadi. Hingga musim pun terus berganti selama 11 tahun akhirnya sang pemuda diberikan keselamatan sehingga dapat kembali pulang ke kampung halamannya.

Sebagai seseorang yang sholeh, yang pertama kali teringat olehnya bukanlah isterinya yang ditinggalkan pada saat mereka masih dalam kondisi pengantin baru, entah bagaimana kondisi isterinya saat ini. Tapi yang langsung dituju pertama kali olehnya adalah mesjid karena ia ingin beryukur atas nikmat Allah SWT sehingga ia dapat selamat dari peperangan yang memakan waktu lama itu. Hingga akhirnya ia pun menemukan sebuah masjid dan kemudian berwudhu dan melaksanakan sholat. Setelah selesai melaksanakan sholat, kemudian ia menjadi penasaran ketika melihat di sudut masjid terdapat sebuah halaqoh dimana banyak para kiai dan ulama sedang berkumpul disana sedang mendengarkan ilmu dan mereka terlihat terangguk-angguk mendengar apa yang disampaikan oleh sang pemberi ilmu.Pastilah guru yang sedang berbicara di hadapan mereka adalah seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi, pikir sang pemuda.

Akhirnya iapun mendekati halaqoh tersebut dan ia merasa takjub ketika mengetahui bahwa ternyata guru yang menyampaikan ilmu tersebut adalah seorang anak kecil yang hanya berusia 11 tahun. Namun apa yang disampaikan olehnya adalah ilmu yang sangat tinggi dan biasanya dimiliki oleh seorang guru besar. Iapun mengikuti pertemuan itu sampai selesai dan bermaksud hendak mencari tahu tentang sosok anak kecil tersebut. Selesai pertemuan tersebut si anak pun pulang diikuti oleh sang pemuda itu. Di sepanjang perjalanan yang dilalui ia merasa sangat familiar dengan jalan yang ia lewati meskipun begitu ia tidak terlalu memikirkannya karena sangat penasaran dengan rumah dan orang tua dari anak tersebut. Hingga akhirnya dalam perjalanan tersebut sampailah ia di suatu kampung, dan ia merasa mengenali daerah itu, hingga akhirnya sampailah si anak pada sebuah rumah yang terletak di ujung jalan kemudian ia mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian terdengarlah jawaban salam dari dalam rumah, sebuah suara yang berasal dari seorang wanita. Kemudian pintu terbuka dan si anak masuk ke rumah tersebut. Dari yang dilihatnya tampak bahwa si anak sepertinya adalah anggota keluarga dari rumah tersebut karena ia begitu santai ketika masuk ke dalam rumah, bukan terlihat layaknya seorang tamu.

Tidak mau terlalu lama dengan rasa penasarannya akhirnya, sang pemuda memutuskan untuk bertamu ke rumah tersebut. Kemudian iapun mendekati rumah itu hingga akhirnya sampailah di depan pintu rumah, dan mulai merasa begitu kenal dengan rumah yang ia hampiri itu. Namun ia kembali menepis perasaan itu kemudian iapun mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam. Tak berapa lama terdengar jawaban salam dari dalam rumah. Jawaban yang terdengar dari suara seorang wanita dan anak kecil. Kemudian pintu pun terbuka dan terlihat sosok wanita di hadapannya. Melihat wanita tersebut sang pemuda pun merasa sangat terkejut karena melihat seseorang yang begitu ia kenal namun sudah lama tidak berjumpa, wajah yang begitu dirindukan selama ini. Begitu juga dengan wanita yang membuka pintu pun tak kalah terkejut melihat sosok yang tampak di hadapannya saat itu. Ia tak lain adalah suaminya yang telah pergi 11 tahun lamanya untuk pergi berperang. Dan akhirnya pada saat itu mereka berdua saling berpelukan satu sama lain dan saling melepas rindu setelah terpisah sekian tahun lamanya. 

Setelah itu kemudian sang suami melihat anak kecil yang tampak di hadapannya kemudian bertanya tentangnya. Kemudian dijawab oleh sang isteri bahwasanya anak yang ada di hadapannya adalah buah cinta mereka. Setelah beberapa hari menikah, meskipun tidak lama mereka berpisah karena panggilan perang dulu, ternyata Allah SWT menganugerahkan si isteri dapat hamil dan melahirkan, kemudian ia menjaga dan mendidik buah hatinya hingga sampai saat ini. Mendengar penjelasan dari sang isteri, suaminya pun langsung terduduk lemas dan merasa begitu terharu, sambil kemudian terbayang kejadian malam itu di saat pertama kali mereka bertemu di malam pertama setelah menikah, terbayang begitu kecewanya ia pada saat itu dan juga kekecewaannya pada ayahnya karena ia merasa sang ayah kurang teliti dalam memilihkan isteri baginya sehingga tidak mengetahui cacat tersebut, terbayang pula wajah dan senyuman isterinya pada saat itu sambil membacakan surat An Nisa ayat 19. Berlinanglah air matanya sambil mengucap syukur pada Allah SWt atas begitu besarnya nikmat dan karuniaNya sehingga ia diberkahi anak yang begitu pintar dan sholeh, dan kemudian baru menyadari bahwa ayahnya memang telah memilihkan jodoh yang terbaik baginya. Ternyata isterinya adalah seseorang yang begitu sholehah sehingga dapat melahirkan dan mendidik anaknya menjadi anak yang begitu baik dan sholeh pula. Anak itu pun akhirnya dikenal sebagai Imam besar yang kita kenal sebagai Imam Malik. Namanya begitu harum dan terkenal seantero jagat di Madinah hingga ke jazirah Arab lain dan banyak ulama yang berguru padanya. Imam Syafei yang mendengar akan kebijakan dan ketinggian ilmu dari Imam Malik pun sampai penasaran dan sengaja menemuinya di Madinah untuk membuktikan berita yang tersiar. Hingga akhirnya mereka kemudian dipertemukan Allah SWT dan Imam Syafe'i bertukar pikiran dan saling berdiskusi satu sama lain. Hingga akhirnya Imam Syafe'i mengakui bahwa berita yang selama ini terdengar benarlah adanya, bahwa Imam Malik adalah seseorang yang begitu terdidik dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.

(Dituliskan kembali berdasarkan materi yang diperoleh dalam kajian kuliah umum PRANikah oleh Ust. Arsjalsyah @ Mesjid UI, 13 Juli 2013)

Jumat, 05 Juli 2013

MENIKAH KARENA GALAU???


"Menikah karena galau??" sebuah ungkapan yang cukup mengagetkan dan mengingatkanku bahwa ada yang salah dan mulai menyadari apa yang terpikirkan oleh diri. Sambil memohon padaNya agar aku terhindar dari hal tersebut.

Siang itu seorang sahabat datang untuk bersilaturahim ke rumahku. Sahabat sejak SMA yang mulai kukenal lebih dekat sejak sama-sama menimba ilmuNya. Hari itu kami berkesempatan untuk saling berbagi cerita dan berdiskusi akan permasalahan yang akhir-akhir ini sering dirasakan, terlebih di masa-masa yang memang sering mengalami perasaan yang tidak menentu atau sering disebut dengan istilah "galau" katanya, namun menurutku lebih ke istilah "lost orientation" yaitu masa dimana terkadang merasa bimbang akan tujuan yang hendak dicapai dalam hidup mulai dari masalah pekerjaan, jodoh, hingga masa depan yang ingin diraih. Tapi yang menjadi inti pembicaraan kami saat itu adalah tentang jodoh, maklumlah di usia yang sudah matang tentunya setiap insan ingin melaksanakan salah satu sunnah Rasulullah SWT yang satu ini. Ingin menggenapkan separuh dien, dapat ambil bagian dalam melahirkan generasi penerus yang dapat melanjutkan dakwah ini, melahirkan generasi Islami untuk pembentukan umat Islam di masa yang akan datang. Generasi yang Insya Allah lebih baik dari diri saat ini.

Saat itulah ungkapan itu terucap, ketika sahabatku menceritakan intisari dari buku yang telah ia baca, buku karangan seorang penulis yang cukup terkenal, dimana ia mengungkapkan akan keprihatinanya pada generasi muda khususnya ikhwan dan akhwat yang banyak terserang "virus merah jambu" yang menyebabkan kegalauan dan satu-satunya jalan keluarnya ialah menikah sehingga orientasi dan tujuan pernikahannya adalah menghilangkan segala rasa galau yang tengah menghampiri diri seiring dengan bertambahnya usia dan berkurangnya masa hidup di dunia ini.

Tak bisa dipungkiri bahwa pastinya ada masanya seseorang merasakan hal ini termasuk juga aku dan sahabat serta teman-teman yang belum juga menemukan jodoh disaat usia terus beranjak naik, berbeda dengan mereka yang memutuskan untuk melakukan pernikahan dini mungkin tidak akan merasakan perasaan yang sama. Aku sendiri dulu merasa bahwa menikah di bawah usia 23 atau sebelum lulus kuliah itu adalah pernikahan dini, karena pada saat itu adalah saat-saat masih diamanahkan oleh orang tua untuk menimba ilmu dan besarnya harapan mereka pada diri kita di kemudian hari agar mendapatkan kehidupan yang layak dengan pendidikan yang ditempuh meskipun yang namanya rezeki itu hanya Allah yang tau. Namun ketika selesai kuliah tentunya kita ingin mengimplementasikan ilmu yang kita peroleh di pekerjaan yang juga bertujuan membahagiakan kedua orang tua sehingga mereka bangga dan bahagia karena pengorbanan dan segala usaha mereka demi pendidikan kita berguna dan bermanfaat untuk diri kita.

Setahun...dua tahun...tiga tahun pun berlalu dan tanpa terasa waktu dan musim berganti dengan cepatnya hingga pada saat itulah kita tersadar ada yang kurang dalam hidup ini tanpa seorang pendamping. Pada saat itulah istilah "galau" menghampiri. Masa dimana kita merasa hanya pernikahanlah satu-satunya yang diinginkan dalam hidup setelah melewati berbagai pengalaman kehidupan dan fase pendewasaan diri. 

Namun rasanya juga terlalu menyedihkan jika memutuskan untuk bersegera menikah hanya karena tidak ingin selalu diganggu oleh pertanyaan itu oleh orang sekitar, atau hanya untuk memuaskan hasrat dan nafsu belaka agar tidak masuk ke perzinaan atau hanya untuk tujuan mengubah status saja, asalkan dapat segera menikah...dapat dilihat oleh orang lain bahwa kita sudah laku alias tidak sendiri lagi tanpa selektif memilih pasangan yang kita cari selama ini. Bukan berarti mencari kesempurnaan, tetapi mencari seseorang yang tepat untuk hidup kita, untuk agama, dunia dan akhirat kita agar dapat melahirkan keturunan dan generasi yang beragama dan berakhlak. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa "buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" yaitu bahwa anak dan keturunan kita bagaimanapun itu umumnya membawa bekal kemiripan dengan orang tuanya baik dari segi rupa maupun akhlak meskipun ada yang tidak seperti itu. Namun bagaimanapun itu, bukankah Allah SWT mengajarkan kita untuk terus berikhtiar dalam memraihnya, untuk mendapatkannya. Meskipun semuanya itu nantinya adalah ketetapan dan keputusanNya, namun bukan berarti lantas kita berdiam diri dan tidak melakukan apapun...setidaknya dalam masa penantian itu kita dapat terus beristiqomah, berhusnudzhon dan tidak pernah berhenti untuk memperbaiki diri, karena jodoh kita adalah cerminan diri kita, sebagaimana halnya sahabat terbaik kita adalah gambaran diri kita, terlebih sahabat hidup kita nantinya di dunia dan akhirat nanti.

"Aku sesuai persangkaan hambaKu"

Begitulah Allah menyebutkan dalam FirmanNya...karena itu, untuk kita yang masih belum dipertemukan dengan jodoh, marilah kita terus berprasangka baik pada Allah SWT, terus bermunajat padaNya, memohon agar segera dipertemukan dengan seseorang yang terbaik di mataNya, seseorang yang dapat menjadi sahabat kita dalam urusan agama, kehidupan dunia dan akhirat kita. Karena Allah SWT tidak akan pernah ingkar terhadap janjiNya, dan kepastianNya...hanya saja mungkin Dia tengah menyiapkan saat yang tepat, saat terbaik yang akan hadir tanpa kita duga. Mari bersiap untuk momen terbaik itu ukhti...mari kita pantaskan diri ini dalam menyambut seseorang yang kita impikan, seseorang yang selalu hadir dalam harapan dan doa-doa kita...Insya Allah semua akan indah pada waktunya.

Tetaplah bersemangat...teruslah istiqomah...tetaplah berprasangka baik...dan jangan pernah lelah untuk meminta padaNya...juga jangan pernah berhenti untuk terus memperbaiki diri kita dan niatkanlah semua hanya untuk Allah semata (^_^)