expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>
Tampilkan postingan dengan label Just My Note :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just My Note :). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juli 2021

Too late to apologize

Pernah gak kamu ngerasa sangat yakin dengan keputusanmu, namun pada akhirnya kamu menyadari bahwa kamu telah mengambil keputusan yang salah. Ketika orang-orang yang kamu sayangi menjadi sedih dan kecewa karenanya. Ketika kamu pun akhirnya dapat berpikir dengan logika dan tidak hanya mengutamakan ego dan perasaanmu saja. Namun ketika perasaan menyesal itu hadir, waktu dan keadaan sudah tidak dapat terulang lagi dan kesempatan untuk mengakuinya dan memulai kembali telah hilang. Sehingga menyebabkan penyesalan yang begitu besar dalam hatimu. Bahkan tangisan pun tak mampu meredakan sedihmu, seolah tidak ada jalan keluar untuk mendamaikan hatimu ataupun memperbaiki keadaan yang telah berjalan salah karena sikap dan keputusanmu. Meminta maaf pun menjadi tak berguna karena bukan penerimaan maaf yang kau butuhkan tetapi kesempatan yang sama seperti saat itu.

Lantas apa yang harus dilakukan untuk dapat meneruskan hidup dan kembali bangkit. Selain tentunya memerlukan pengakuan dan permohonan taubat kepada Tuhanmu atas segala kesalahan yang telah kau buat. Dapatkah hatimu yang telah terserak kembali menjadi utuh dan pulih dari rasa sakit yang terasa begitu perih namun tidak berdarah ataupun tampak oleh orang lain. Hanya Dia yang Maha Tahu akan rasa yang kau pendam dalam hatimu. Bahkan orang terkasihpun tak ingin kau tampakkan segala rasa yang membuncah dalam hatimu. Ingin mengakui dan menceritakan perasaanmu namun setiap kali ingin melakukannya, saat itu pula lidahmu terasa kaku, matamu terasa panas, pikiranmu melayang membayangkan bagaimana perasaan mereka yang telah kau kecewakan. Akankah mereka dapat menanggapinya dengan tenang dan ikhlas dengan keadaan yang sudah terlanjur terjadi. Ataukah mereka hanya berusaha untuk tegar di depanmu, namun kekecewaan dalam hatinya kembali terasa dan lebih menyesakkan dari apa yang kau bayangkan.

Ketika kamupun mulai bertanya apa yang sebenarnya kau cari, apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidupmu. Apa yang dapat membuatmu bahagia, dan kebahagiaan seperti apa yang kau inginkan dalam hidupmu? Katanya untuk dapat membahagiakan orang lain kita harus dapat membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu. Jika kita sudah merasa bahagia dengan hidup kita, apa yang kita jalani, penerimaan terhadap diri sendiri secara utuh, maka kita tidak akan mencari kebahagiaan diluar itu...tetapi kita akan dapat menebarkan kebahagiaan itu terhadap orang lain dan sekitar kita. Begitu juga dalam hal mencari pasangan dan sebuah pernikahan. 

Kini, yang dapat dilakukan hanyalah memulai kembali semuanya dari awal, atau kamu dapat menyebutnya dari titik nol (0) sebagaimana halnya keberadaanmu saat ini yang berada di nol kilometer. Berharap dapat menemukan arah yang benar dan jelas, agar tak ada lagi keraguan yang muncul dari hatimu. Berdoa dan pasrah pada kehendakNya, serta memohon kebaikan-kebaikan yang mungkin tak pernah kau bayangkan sebelumnya, berdoa akan keberkahan dalam setiap langkah hidupmu dan jalan yang telah kau pilih. Semoga Dia selalu menuntunmu dan menunjukkan arah yang benar dan lurus, sehingga tak akan ada lagi penyesalan itu nanti. Semoga Allah karuniakan keajaiban dan karunia yang tak pernah kau sangka yang akan menjadi jalan terbaikmu dalam mengarungi kehidupan ini dan menyiapkan bekal yang cukup untuk layak menemuiNya nanti ketika saat tiba waktumu menghadapNya.



Rabu, 14 Oktober 2020

Sanggupkah hati menerima kenyataan?? Ketika keikhlasan diuji oleh Sang Pemilik Hati....

Sebuah pernikahan seharusnya dibangun dengan rasa cinta dan kasih sayang yang terjalin antara dua insan. Tentu itu adalah impian setiap orang termasuk aku, kamu dan juga mereka yang sedang memperjuangkan hidupnya untuk menemukan soulmatenya. 

Tapi terkadang apa yang diimpikan tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Ketika dihadapkan oleh dua pilihan yang seharusnya menjadi satu yaitu mencintai dan dicintai...maka sisi mana yang akan dipilih? Ketika pernikahan menjadi keharusan dan sudah tiba waktunya sehingga menjadi hal yang tidak bisa dielakkan, maka dengan niat untuk beribadah padaNya, mengikuti sunnah RasulNya dan berbagai tujuan dan harapan hidup kedepannya, sanggupkah kita memilih satu dari dua pilihan tersebut, pada sisi mana kita akan kuat berdiri dan menjalani anugerah kehidupan yang diberi olehNya?

Seorang wanita yang fitrahnya menjadi makmum dalam rumah tangga tentunya mengharapkan seorang imam yang mencintainya dan dapat memimpin dan memperlakukannya dengan baik. Begitu juga dengan seorang laki-laki yang akan menjadi imam tentunya menginginkan makmum yang dapat mendampinginya dan menjadi pasangan yang dapat saling melengkapi satu sama lain dan membersamai dalam suka dan duka, serta bisa saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling menasehati dengan kesabaran.

Namun, ketika dipertanyakan menikahmu untuk apa? maka apakah jawaban yang sebenarnya keluar dari hatimu dan bukan hanya perasaan atau impian belaka. Ketika ia yang hadir tak sesuai harapanmu akankah niatmu untuk menikah masih lebih kuat dibandingkan perasaanmu? Mampukah logika mengalahkan hawa nafsu dan keinginanmu?

Tanpa disadari, ketika saat itu hadir....kesempatan yang Dia anugerahkan dan hadirkan sosok yang menerimamu apa adanya. Tapi sebaliknya dirimu tidak bisa menerima kehadirannya karena merasa jauh dari apa yang engkau harapkan, apa yang akan dilakukan dan keputusan apa yang akan kau ambil nantinya? Mampukah kesadaran hati dan ketulusan niat dan tujuan pernikahan yang kau yakini dapat memberikan jawaban yang terbaik bagimu. Ataukah engkau hanya akan dikalahkan oleh hawa nafsu yang kecewa dan pada akhirnya mengambil keputusan yang kau sesali??



Minggu, 15 Maret 2020

H.I.J.R.A.H

16 Maret 2020/ 21 Rajab 1441


Tak terasa sebulan sudah aku berada di sini, Bandung...tempat yang tidak pernah kusangka akan berdomisili dan memperoleh pekerjaan di kota ini. Di saat hati tak tentu arah, bimbang dengan jalan kehidupan yang harus kupilih. Di saat asa tak kunjung menjadi nyata, dan tuntutan hidup yang seolah tak memberi pilihan dan waktu untuk berpikir panjang. Hanya satu yang kupinta padaNya, semoga apa yang kupilih tidak salah langkah, dan semua yang kujalani saat ini adalah jalan yang Ia terangi dengan cahayaNya, hikmah dan banyaknya kebaikan, serta secercah harapan yang selama ini terasa semakin memudar.

Satu per satu kepingan mimpi kembali kukumpulkan dan berharap bukan hanya bayangan semu, senantiasa berdoa akan kasih sayang dan petunjuk serta anugerahNya, serta ikhtiar yang aku sendiri tidak bisa menilai apakah sudah baik dan benar adanya, apakah sudah maksimal segala yang kucurahkan selama ini. Yang tertinggal hanyalah kepasrahan padaNya mengenai waktu dan tempat yang kuharap menjadi saat terindah dalam hidupku. 

Tak bisa kupungkiri betapa pedihnya hati ini, betapa gelisah dan takutnya diri akan masa depan yang masih tak bisa kupahami. Kekhawatiran dan kesedihan ibu dan ayah seolah menjadi pelengkap dari kegundahan hati yang kututup rapat 8 tahun terakhir dari usiaku saat ini. Banyak kesalahan, kekhilafan, kesombongan, ketidaktahuan, keegoisan, ketidakpedulian yang saat ini berakhir menjadi sebuah penyesalan. Dan yang dapat kulakukan saat ini ialah mengintrospeksi diri dan memperbaiki segala kesalahan di masa lalu, berharap tidak akan terulang lagi kesalahan yang sama, dan menjadi pelajaran untukku dan anak cucuku kelak. 

Mungkin Allah Swt ingin mengajariku arti empati yang sebenarnya, bukan sekedar ucapan tetapi juga perasaan dan hati yang utuh untuk bisa peduli melakukan yang terbaik yang dapat kulakukan untuk membantu sesama, menghargai orang lain dengan baik, dan dapat mengambil banyak hikmah dan juga pelajaran atas semua yang kutemui dalam hidup ini.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh urusan orang beriman itu begitu menakjubkan, karena pasti berujung pada kebaikan. Dan hal itu hanya terjadi pada diri orang beriman.Jika mengalami hal yang menyenangkan, dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan. Dan jika mengalami hal yang menyedihkan, dia bersabar dan hal itu pun merupakan kebaikan.” 
[HR. Muslim].

Ya Rabb...semoga kami bisa melakukan sebagaimana kekasihMu Rasulullah SAW ajarkan, karuniakanlah kami hati yang lapang, jiwa yang bersih, amalan yang utuh, akhlak yang mulia, kasih sayang yang berlimpah, kepedulian yang tinggi, keikhlasan dan kesabaran yang sempurna, sehingga kami pantas mendapatkan ridho dan kasih sayangMu serta rahmatMu.

Senin, 10 Maret 2014

Please Deh...Jangan Membiasakan Diri Menjadi "Plagiat" (-_-)'

Gak sengaja dapat link yang isinya tentang Geografi dan segala hal yang berkaitan dengan ilmu geo plus bisa download gratis data-data Kabupaten dan Kota di Indonesia...gak berbeda denganku mungkin penulis juga ingin berbagi ilmu dan data-data yang seharusnya dapat diperoleh oleh kita yang bergerak di bidang ini, terlebih mungkin akan sangat berguna untuk temen2 atau adik2 mahasiswa yang sering kesulitan memperoleh data yang seharusnya dapat dimiliki dengan gratis tanpa harus bayar.

Penasaran apa saja isi dari blog tersebut, kucoba untuk melihat-lihat dan berselancar di blog tersebut, entah kenapa terasa gak asing dengan beberapa tampilan yang ada dan ternyata disana juga dishare tentang beberapa tema ilmu GIS yang juga kucoba tuangkan dalam blogku. Awalnya aku tidak ingin merasa bahwa itu adalah apa yang kutulis di blogku, tetapi ketika diteliti dan diperhatikan lebih jauh baik kata-kata maupun gambar yang ditampilkan kok bisa sama persis ya bahkan sampai langkah2 yang ditulis disana. Ya mungkin itu bukanlah hal yang begitu spesial, aku yakin orang-orang yang berkecimpung dan menggeluti dunia GIS pastilah banyak yang lebih mahir dan lebih tau jika dibandingkan dengan sedikit ilmu yang sempat kutuliskan/ kubagi disini. Hmm...jadi berpikir apakah orang itu copy paste tulisanku ya???

hmm...whateverlah, sama sekali ga merasa marah karena memang semua yang kucoba tulis disini adalah sebagai ibaratnya lemari buku yang kubuat untuk diriku dan juga orang lain yang mungkin akan dapat mengambil manfaat dari apa yang kutulis di blog ini. Sebagai kantong ajaib yang ketika aku merasa butuh dapat kubuka-buka kembali kapanpun kumau. Tapiii ya jadi merasa lucu aja dan menyadari ternyata seperti ini ya rasanya ketika apa yang kita tulis dicopy paste oleh orang lain seolah-olah itu adalah tulisan mereka. Pantas saja penulis buku, pembuat lagu, penulis novel atau siapapun itu yang ketika tulisan mereka dicopy paste oleh orang lain pastinya merasa kesal dan merasa ada barang milik mereka yang diambil, terlebih jika hasil karya yang mereka buat menghasilkan nilai ekonomi.

Tapi menurutku sih seharusnya jika memang kita ingin membagi kembali ilmu yang kita dapatkan dari sumber entah apapun itu dan darimanapun jikalau sudah ada, seharusnya kita dapat lebih kreatif dan membuatnya dengan gaya dan bahasa kita sendiri, tetapi jikalau belum ada mungkin kita dapat menulis sumber kita memperolehnya. Bukan asal comot sana comot sini sesuka hati kita (^_^)' .So...stop plagiarisme, and be creative please!

CMIIW... (^_^)


I'm sorry to say...from now it's locked to copy paste...



Sabtu, 04 Januari 2014

Wallahu A'lamu :)

Sebagai seorang muslim dan orang yang beriman kepada Allah SWT, pastinya kita menyadarai bahwa hidup tidak akan pernah lepas dari masalah. Berbagai masalah yang kita hadapi sehari-hari merupakan ujian/ cobaan hidup yang Allah berikan agar kita senantiasa ingat kepadaNya dan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah SWT agar kita tidak menjadi lalai dan terlena dengan segala nikmat yang diberikan dan juga dengan berbagai perhiasan dunia yang penuh gemerlap ini. 

Berbagai masalah tersebut membuat kita sadar bahwa hanya kepadaNyalah tempat kita kembali, dan juga tempat kita memohon pertolongan. Dengan melewati sebuah masalah, menjadikan kita orang yang baru, membuat kita menjadi lebih kuat dan tegar serta menjadikan iman kita setingkat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, jika kita dapat melewati itu semua dengan baik, sabar, dan ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda, bahwa hati seorang mukmin itu terbagi atas 2, yaitu Syukur dan Sabar. Seseorang yang beriman jika diberikan nikmat oleh Allah SWT maka ia senantiasa bersyukur, dan sebaliknya ketika ia diuji dengan cobaan dan masalah, maka ia senantiasa bersabar dalam menjalaninya. Begitu indahnya hati seorang mukmin, dengan dua hal tersebut membuat mereka menjadi orang yang tenang dan jauh dari perasaan gelisah.

Hal ini dapat terjadi karena Ma'rifatullah (mengenal Allah), mereka telah mengenal Rabbnya dengan baik, dan senantiasa yakin atas ketetapanNya. Apabila seseorang telah mengenal Allah, maka akan hilang segala tu'mah/suuzhon/prasangka buruk kepada Allah SWT. Yang ada hanyalah hikmah atas segala ujian yang diberikan, selalu dapat melihat kebaikan dan hikmah dari setiap masalah yang dilewati dan ujian yang dijalani.

Namun sebagai seorang manusia yang fitrahnya mempunyai nafsu, sehingga seringkali kita terjebak dalam perasaan dan prasangka yang sering menjerumuskan kita sehingga tidak yakin akan ketetapan Allah SWT. Kita sering merasa iri dengan hamba-hambaNya yang mungkin dimata kita terlihat tidak baik dan bahkan kafir, namun diberikan nikmat dan kesenangan hidup yang berlimpah oleh Allah, sehingga kita merasa heran dan bertanya-tanya kenapa tidak dianugerahi nikmat yang jauh lebih baik karena keimanan kita. Oleh karena itu Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya Q.S. Al An'am ayat 44 :

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa"

Begitulah Allah SWT menjelaskannya, bahwa nikmat dan kesenangan yang diberikan kepada orang-orang fasik dan juga orang-orang kafir, itu semua hanyalah istidraj, yang tidak lain hanyalah untuk membuat mereka semakin lalai dan terlena dengan itu semua di dunia ini, dan bersifat sesaat/sementara dimana suatu saat nanti Allah SWT akan mengambil itu semua dengan tiba-tiba dan mereka hanya bisa terpana dan menyesali atas kelalaian yang telah mereka perbuat.

Berbeda halnya dengan orang mukmin, yang Ia beri semua nikmatNya dengan kasih sayang serta segala ujian agar hamba-hambaNya dekat dengan Sang Pemiliknya (Rabbnya) dan agar tidak lalai dengan segala kesenangan yang diberikan. Wallahu a'lam bisshowwab.... Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.

Jumat, 17 Mei 2013

TAKUT


Adakah orang yang tidak pernah merasakan takut di dunia ini??? Rasanya tidak ada, setiap orang pasti pernah merasakan takut, karena rasa takut itu adalah fitrah manusia. 
Takut mati, takut terhadap makhluk halus, takut terhadap hewan buas, takut miskin, takut gagal, takut gelap, takut ini, takut itu…banyak sekali ketakutan-ketakutan dalam diri kita, hidup kita. Rasa itu memang wajar adanya selama dalam kadar tertentu dan tidak selalu berkepanjangan sehingga menyebabkan sesuatu penyakit yang sering disebut phobia.

Berbicara mengenai “takut”, terkadang aku tidak mengerti terhadap orang yang menikmati ketakutan itu sendiri dan seolah-olah rasa takut itu menjadi sebuah hiburan. Ketika seseorang menjadi “candu” akan film horror, film pembunuhan (psycho) yang begitu sadis, film peperangan dimana nyawa seseorang tidak berarti dan mudah sekali penyiksaan dan pembunuhan terjadi. Seolah-olah semua kejadian menyeramkan itu hanyalah sebuah drama dan tontonan. Namun pernahkah mereka berfikir ketika itu terjadi pada diri kita, hidup kita saat ini. Mungkin itu akan seperti neraka dunia jika benar-benar terjadi di sekitar kita. Neraka yang hanya sepersekian persen dari neraka yang sebenarnya, dimana hukumNyalah yang akan berlaku nantinya.

Mungkin terlalu mengerikan untuk membayangkan tentang nerakaNya. Bahkan untuk sekedar membayangkan kejadian di film jika itu menjadi sebuah kenyataan.
Bagaimana jika ketakutan itu dikaitkan dengan kehidupan yang saat ini dijalani, ketakutan yang mungkin terlihat sepele tapi kita memang perlu takut jika tidak menyadarinya. Takut ketika waktu begitu cepat berlalu sementara kita sibuk dengan dunia kita dan lupa mempersiapkan bekal untuk bertemu denganNya...takut ketika tidak dapat menggunakan waktu dan usia yang diberikan untuk dapat melakukan hal terbaik yang dapat kita perbuat... takut ketika tidak dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya...takut ketika diri ini diperbudak oleh nafsu, uang, sehingga tanpa kita sadari kita tidak pernah menghargai waktu kita dengan baik. 

Seorang sahabat Rasulullah mengatakan bahwa “waktu itu ibarat pedang”
Jikalah waktu itu bagaikan pedang, entah berapa gores pedang yang telah mengenai tubuh kita, entah berapa banyak darah yang mengalir dari tubuh ini karena terkena goresan dari pedang tersebut, entah berapa lama kita dapat bertahan untuk tidak terkena goresan dari pedang itu.

Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya, dimana banyak dari kita yang salah kaprah dan mengikuti budaya mereka orang-orang kafir yang menganggap bahwa “waktu itu adalah uang”, sehingga kita berkejar-kejaran dan saling berlomba-lomba untuk mendapatkannya, untuk saling menunjukkan eksistensinya dengan uang, pangkat dan jabatan yang dimiliki. Merasa hebat ketika semua orang dapat tunduk pada kita karena kekuasaan dan harta yang kita miliki.

Membahas ketakutan mungkin tidak ada habisnya, karena ketakutan adalah buah dari pikiran kita. Ketika kita berpikir takut maka ketakutanpun akan datang menghampiri diri sehingga semuanya terlihat menakutkan. Namun ketika kita dapat mengatasinya dengan baik maka ketakutan itupun akan hilang jika kita terus selalu mendekatkan diri padaNya, Ia yang satu-satunya pantas dan seharusnya kita takuti, karena hanya Ialah yang berhak untuk ditakuti. Takut jika Ia tidak perduli pada kita, takut jika apa yang kita lakukan tidak diridhai olehNya, takut jika tidak melakukan perintahNya. Dialah Rabbul Izzati, Allah azza wa Jalla, Allah yang satu, Tuhan dan Pencipta kita dan tidak ada satupun yang dapat menyerupaiNya.

Selasa, 13 November 2012

Let's talk about Love ;)


Cinta...
Kadang suka males nonton film2 sinetron yang terlalu lebay menampilkan sebuah kisah percintaan
Seolah-olah hidup hanya untuk cinta, cinta yang hanya berdasarkan hawa nafsu kepada lawan jenis
hanya karena kekaguman akan keindahan ciptaanNya, hanya melihat fisik tapi tidak hatinya
Bahkan mungkin sampai menomorduakan Allah sebagai Sang Pemilik Kehidupan ini....
dimana mereka rela mati sia-sia hanya untuk kekasih tercinta, rela mengorbankan apa saja demi membahagiakan orang yang dicintai
naudzubillahi mindzalik....

Cinta...
Tak ada yang pernah tahu kapan datangnya, sama siapa akan jatuh cinta, dan apakah cinta itu dapat bertemu sesuai yang diinginkan??
Itulah rahasia Allah yang tiada satu pun kita dapat memahami dan mengerti akan anugerah perasaan yang Allah titipkan pada kita
Meskipun sudah fitrah kita sebagai manusia yang mencintai dan ingin dicintai, namun bukan berarti kita menjadikan rasa itu terlalu berlebihan
terlebih kepada sesama manusia....hanya Allah sajalah yang pantas kita cintai demikian dalam melebihi siapapun.

Cinta...
Mungkin adalah anugerah terindah yang Allah titipkan di hati kita,
karenanya yang lemah dapat menjadi kuat, yang sakit dapat menjadi sehat...yang biasa dapat menjadi luar biasa.
Itulah hebatnya cinta, apapun terasa begitu indah dan menyenangkan, membuat hidup pun menjadi semangat

Tapi...ketika cinta kita dipertanyakan mampukah kita membuktikannya???
katanya cinta pada Allah, tapi mengapa masih saja melakukan hal-hal yang dibenci olehNya?
katanya cinta pada Rasulullah, tapi mengapa masih saja memperdebatkan sunnahnya?
katanya cinta pada orang tua tapi mengapa masih saja sering baik sengaja ataupun tidak menyakiti dan mengecewakan mereka?

Cinta...cinta...semoga rasa itu selalu hadir dalam diri untuk dapat dibagi pada siapapun, terlebih sesama saudara seiman. Sebagaimana sabda kekasihNya, Rasulullah SAW : "Belum sempurna iman seseorang sebelum ia dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri"

Lagi-lagi tentang Perbedaan ;) Tidak ada yang salah dengan perbedaan selama itu di atas kebenaran......

Ada hal yang harus dikorbankan ketika memilih untuk berbeda...
Ada hati yang mungkin kecewa dan tersakiti karena kita memilih untuk berbeda
Ada rasa yang mungkin tak dapat diungkapkan ketika pilihan itu ternyata berbeda

Aku, kamu, dia, dan mereka berbeda...
Bukankah berbeda itu wajar adanya
Lantas kenapa harus marah ketika orang lain ingin berbeda dari kita
Bukankah mereka punya hak untuk memilih
Begitu juga dengan diri kita
ketika kita tidak menyukai sesuatu hal yang ternyata berbeda dengan orang-orang
lantas kenapa??? salahkah??

Apa hanya kita yang berhak untuk mengikuti kata hati kita?
Apa hanya ego kita yang berhak untuk dituruti?
Ketika memutuskan sesuatu dan kita berharap orang lain akan mau ikut dengan apa yang kita putuskan namun ternyata ia tidak menerima apakah lantas kita berhak menghakiminya??mengucilkannya? menjauhinya?membuatnya terlihat aneh dan asing...

Berbeda mungkin tidak selamanya baik...namun juga tidak selamanya buruk...
Namun manusia pada dasarnya selalu membutuhkan dukungan dari orang lain
Yang ketika ia menilai sesuatu, ia berharap orang lain akan berpendapat sama dengannya
Padahal perbedaan itu adalah anugerahNya yang diberikan padaku, kamu, dia, dan juga mereka
Jadi tolong bijaklah kawan...
Kamu boleh berbeda selama itu benar
Jangan hanya ikut-ikutan tanpa tau kenapa kamu harus berbeda
kenapa kamu memilih berbeda
Jangan hanya karena tidak ingin dijauhi lantas kamu hanya ikut-ikutan
Tapi hatimu tidak pernah ikhlas dengannya
Apa bedanya kamu dengan orang yang munafik

Kadang  kamu tidak ingin berbeda hanya untuk membuat senang orang sekitarmu
Lantas ketika ternyata mereka tidak senang dengan apa yang kamu lakukan kemudian baru kamu memutuskan berbeda?
Ikutilah kata hatimu.....
Dengarkanlah seruanNya, peringatanNya, dan bersandarlah hanya padaNya

Perbedaan menimbulkan keberagaman
Perbedaan itu indah adanya...pelangi tidak akan terlihat indah jika hanya satu warna
Ia perlu bergabung dengan warna lainnya agar terlihat menarik
Begitu juga dengan kita sebagai makhluk sosial
Jika semuanya seragam bukankah akan menjadi biasa???

Senin, 03 September 2012

Maaf...jika aku berbeda, tapi tolong jangan buat ini semua jadi masalah antara kita...

Bukankah sebagai manusia Allah SWT memberikan kita akal dan pikiran juga nafsu, yang dengan akallah kita dapat mengendalikan nafsu kita, dengan iman yang Ia berikan pada kita sehingga kita senantiasa berpikir dulu sebelum bertindak.
Karenanya kita memiliki hak untuk memilih jalan yang sesuai dengan akal pikiran kita...Kita punya hak untuk menilai sesuatu itu benar atau tidak menurut hati nurani kita...Namun kenapa di saat kita memilih apa yang sesuai dengan yang kita yakini justru orang lain merasa tidak puas dan tidak suka dan justru marah??bukankah ia juga mempunyai hak untuk berkata iya atau tidak, untuk memilih ini atau itu. Lantas kenapa di saat kita berbeda harus menjadi sesuatu yang merugikan baginyakah??
Aku tidak mempermasalahkan tentang akidah, tentang dienNya yang memang tidak seorang pun yang bisa melakukan sesuatu di luar syariatNya...karena itu adalah sesuatu yang prinsip yang tidak seorang pun bisa berbuat seenaknya jika Ia mengaku beriman dan bertaqwa padaNya.
Tapi..yang saat ini terjadi bukanlah tentang itu...ini tentang kepribadian juga tentang keyakinan hati dan prinsip yang sudah begitu teguh kuyakini sejak dulu...sejak aku mulai mengerti tentang syariatNya.
Ada hal yang mungkin menurut orang lain itu biasa, tapi bagiku itu sangat tabu. Ada hal yang menurut mereka tidak ada yang salah dengan melakukan ini dan itu, tapi bagiku itu tidak pantas kulakukan karena prinsip hidup yang kuyakini yang insya Allah padaNyalah kusandarkan semua itu.
Jadi tolong...jangan buat suatu perbedaan itu menjadi masalah antara kita, karena berbeda itu tidak salah, jangan memaksakan orang lain untuk selalu sama dengan kita. Syukurilah dan nikmatilah perbedaan itu menjadi sebuah anugerah dariNya agar warna-warni kehidupan ini dapat terasa begitu manis dan indah. Namun juga jangan lantas lalai dengan perbedaan dasar yang dapat merusak kesatuan kita sebagai seseorang yang mengaku hambaNya dan cinta pada kekasihnya Rasulullah SAW. Jangan jadikan perbedaan itu menjadi alasan untuk hal ini. Karenanya "pikir itu pelita hati" jadi... gunakanlah akalmu dan biarkan ia jadi penerang dan cahaya bagi hidupMu.